Kampungcyber’s Blog Sumber Taman Kota Probolinggo

SUDAH SUSTAINABLE-KAH KOTA PROBOLINGGO

Posted on: Maret 25, 2009

Memperhatikan kota Probolinggo, tentunya tidak lepas dari berbagai hal yang berlangsung dalam aktivitas masyarakat kota probolinggo. Dinamisasi sosial yang terjadi saat ini patut untuk direnungkan kembali, sebagai langkah menuju masa depan yang lebih baik. Konsep sustainable development, green development, eco development dan sebagainya yang banyak dibicarakan akhir-akhir ini merupakan topik yang menarik untuk dipelajari dan diaplikasikan dalam pembangunan Kota Probolinggo oleh semua stakeholder yang ada.
Konsep sustainable development perlu diimplementasikan secara benar, sehingga dapat lebih menyentuh masyarakat. Sudahkah kota probolinggo cukup sustainable bagi semua orang? Ataukah sudah demikian biasa kita menemukan banyak hal yang tidak lagi menjadi perhatian dan pertanyaan bagi kita? Apakah kota probolinggo akan tumbuh dengan cara yang sama seperti kota-kota besar lainnya di indonesia, dimana banyak kota besar telah memiliki masalah dalam penataan ruang sebagai akibat kurang adanya perencanaan dan desain yang matang serta implementasi perencanaan yang konsisten ?
Terdapat pemikiran bahwa penanganan masalah pembangunan dan perencanaan kota probolinggo masa depan perlu dilihat dari sisi dinamisasi yang terjadi dalam masyarakat. Perlu disadari bahwa kota Probolinggo dan kota-kota di Indonesia pada umumnya tidak dibangun dengan cara yang sama seperti kota-kota di luar negeri yang dirancang secara khsusus sebelum kota terbangun, tetapi dirancang dan dikembangkan seiring dengan perkembangan penduduk wilayah kota. Banyak hal yang perlu dipikirkan tidak hanya mengadopsi konsep pemikiran luar negeri dan diterapkan untuk konteks pembangunan kota. Berbagai latar budaya, peralihan jaman dan kondisi masyarakat merupakan hal-hal yang patut dipertimbangkan.
Sanitasi misalnya, sebagai hal yang sangat penting menyangkut hajat hidup orang banyak merupakan hal yang seharusnya ditangani secara konsisten oleh pemerintah daerah, karena demikian termaktub dalam Undang-undang Dasar. Setidaknya perencanaan yang matang perlu dipelajari kembali dan dalam rentang waktu yang memungkinkan, saat ini dan masa depan, implementasi sebaiknya dilaksanakan dengan terencana dan berorientasi masa depan.
Dalam mencoba mempelajari berbagai hal tentang sanitasi kota probolinggo, dapat diperhatikan kondisi eksisting ‘apa yang ada’ dan menjadi titik tolak untuk diperhatikan oleh para perencana kota sebagai bahan mewujudkan kota probolinggo yang sustainable.

    Saluran yang mestinya terbuka tapi ditutup
    Jumlah penduduk yang padat dalam satu lingkungan kota, merupakan salah satu hal akibat kurangnya implementasi peraturan tata kota. Hal-hal semacam ini rawan menimbulkan permasalahan yang berkaitan dengan peresapan air, pengelolaan air limbah dan masalah sanitasi lainnya. Selain itu juga merupakan tempat bertumbuhnya kerawanan sosial.

    Fungsi trotoar untuk menanam pohon
    Dampak kurangnya perencanaan kota yang terjadi dalam perkembangan kota Probolinggo selanjutnya adalah ketidak-sesuaian antara harapan dan kenyataan. Seiring pertumbuhan kota probolinggo menjadi kota lebih besar akibat pembangunan yang lebih memungkinkan, keharusan ditumbuhkannya berbagai fasilitas baru seperti pusat-pusat perbelanjaan, perumahan, fasilitas umum dan dukungan kepada kota yang lebih sehat serta keinginan dari sekelompok ‘kaum berduit’ menemukan tempat yang lebih sesuai dengan standar mereka menumbuhkan cara-cara penyelesaian yang dipandang dari sisi sosial merupakan hal yang kurang tepat seperti alih fungsi lahan yang tidak sesuai dengan tata ruang kota, penggusuran, eksploitasi dan sebagainya.

    Penutupan sungai untuk kegiatan sehari-hari
    Dampak ini bukan berarti bahwa kota probolinggo tidak memihak kaum miskin, namun tidak dipungkiri kota probolinggo telah berkembang dalam skala yang menyebabkan kesenjangan antara kaum miskin dengan kaum berduit yang cukup panjang. Ketertinggalan kaum miskin dalam mengejar kesenjangan untuk mengikuti perkembangan kota melalui berbagai kegiatan usaha dengan memanfaatkan ruang yang ada merupakan fenomena yang terlihat, justru merupakan hambatan menuju kota yang lebih baik, akibat perencanaan dan implementasi tata kota yang kurang berpihak pada sustainability untuk semua.
    Awal dari kekacauan kota adalah penggunaan fasilitas kota yang kurang sesuai, akibat kebutuhan dan desakan ekonomi seperti berjualan atau membangun bangunan di tempat yang tidak seharusnya. Penjual mendapatkan kehidupan dari berjualan, sedangkan disisi lain, kepentingan masyarakat untuk menggunakan trotoar jadi terganggu. Kebutuhan ekonomi mengakibatkan banyak orang berbondong-bondong mengambil langkah yang kurang menguntungkan. Hal ini patut disadari sebagai kondisi buah simalakama, “jualan di trotoar berarti kepentingan masyarakat tergangu, tidak jualan berarti perekonomian tergangu”. Nampaknya, suatu saat di masa depan, sebuah keputusan pahit akibat kurangnya konsistensi implementasi kebijakan tata kota harus terjadi, seperti penggusuran paksa, pemberian uang ganti rugi “lahan yang sebenarnya bukan milik mereka” yang menghabiskan uang rakyat dari hasil pajak.

    Warung memanfaatkan trotoar
    Sebagian Kota Probolinggo dengan permasalahan klise seperti kebutuhan hidup, keharusan untuk ‘sustainable’ dalam ekonomi, kurangnya konsistensi implementasi tata kota telah merusak sebuah bagian kota sekaligus menjadi wajah keprihatinan yang belum berujung. Lihatlah kerusakan alam yang terjadi, erosi (pengikisan tanah akibat aliran air), pendangkalan sungai, kerawanan banjir dan hilangnya potensi estetika lingkungan. Namun di sisi lain melihat bagaimana masyarakat dalam situasi menghimpit hidup dan bertahan untuk hidup adalah sebuah perasaan yang membawa simpati, karena kondisi inilah representasi dari sebagian penduduk Kota Probolinggo, yang hidup dibawah kemiskinan.

    Pemanfaatan trotoar untuk tambal ban
    Masyarakat dalam kondisi yang kurang menguntungkan, juga memiliki cara-cara khusus untuk hidup dan berkehidupan, dengan membangun kesadaran hidup bersama, yang sebenarnya telah ada dalam filsafat ‘gotong-royong’. Kesadaran tentang cara-cara hidup yang lebih menguntungkan dalam situasi yang kurang menguntungkan adalah hal yang bisa dikembangkan dalam mencapai sustainability dalam jangka pendek. Masyarakat perlu difasilitasi dan ditumbuhkan keinginannya memiliki kepedulian lingkungan, seperti penghijauan lingkungan, menanami area sungai dengan tumbuh-tumbukan yang dapat memperkecil erosi dan menghijaukan kota serta penanganan sampah oleh masyarakat.

    Penjual pot bunga memanfaatkan trotoar
    Bukanlah merupakan hal yang bijak menyalahkan masyarakat yang kurang responsif akan alam, karena bukan mereka tidak mengenal konsep sustainability itu, namun karena kurangnya kesempatan dan dorongan melakukannya. Masyarakat juga bukan merupakan pihak yang saat ini benar-benar menyadari, atau dalam proses bisa membuat perubahan penting, bahwa kondisi mereka merupakan turunan dari proses ‘pembangunan’ tak berwawasan lingkungan dan pembangunan yang tidak berkepedulian.

    Kemacetan lalu lintas
    Hingga kapankah terciptanya sustainablity kota probolinggo ? Jawabannya adalah konsistensi perencananan dan implementasinya harus benar-benar ditegakkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


  • kampungcyber: kenapa masih mencari format ?
  • kampungcyber: ok
  • Mr WordPress: Hi, this is a comment.To delete a comment, just log in, and view the posts' comments, there you will have the option to edit or delete them.

Kategori

%d blogger menyukai ini: